Karirku Beda dengan Jurusanku Dulu! So?

Dalam dunia karir, ada banyak pilihan pekerjaan yang bisa kamu ambil. Namun, perlukah menyesuaikannya dengan jurusan saat kuliah?

Dunia kerja yang penuh dengan ragam dan pilihan jenis karir, membuat orang bebas memilih mana pekerjaan yang akan ditekuni. Menurut Bernadia Arimurti, Kepala Sie Akademik FISIPOL UGM, bagi mahasiswa yang memiliki prestasi baik, biasanya akan bekerja sesuai dengan bidang ilmu yang dipelajari. “Kalau yang menengah ke bawah, cenderung tidak. Mungkin karena mencari lowongan yang kosong,” ujar Ari, sapaannya.

Karir yang berbeda dengan jurusan kuliah

Galuh Setia Winahyu, M.Psi, People Development Supervisor ECC UGM, mengatakan idealnya jobseeker mencari lowongan yang memang sesuai dengan apa yang telah ia tekuni semasa kuliah. “Memang idealnya sesuai dengan latar belakang pendidikan dan keterampilan,” papar Galuh.

Kendati demikian, bagi mereka yang memilih jalan karir berbeda dengan bidangnya saat kuliah, bukan berarti ia tidak sukses. “Karena memang ada, pekerjaan yang membutuhkan bidang keilmuan tertentu, ada pula yang tidak,” jelasnya. Bagi lowongan yang terbuka untuk semua jurusan, artinya pekerjaan tersebut memang tidak membutuhkan personel dari bidang ilmu tertentu.

Senada dengan Galuh, Ari menuturkan bahwa memang lebih baik lulusan perguruan tinggi bekerja sesuai dengan ilmunya. Dengan demikian, apa yang ia pelajari selama kuliah akan lebih terasa manfaatnya. “Meskipun kadang ada yang memilih jurusan, karena dorongan dari orang tua, bukan karena keinginannya,” lanjut Ari. “Tapi kalau dia bertanggung jawab, sekalipun tidak terlalu suka, tetap akan dijalani dengan baik.” Harapannya, mahasiswa kuliah sesuai dengan cita-citanya sehingga karirnya nanti bisa sesuai dengan ilmunya.

Drs. Budhy Komarul Zaman, M.Si, dosen jurusan Ilmu Komunikasi UGM, mengatakan, pada awal masuk kuliah seorang anak biasanya seolah tidak punya pilihan. “Mereka dihadapkan dengan terlalu banyak pilihan dan juga terlalu diarahkan, jatuhnya justru tidak bisa memilih karena bingung,” ujarnya. Menurutnya, mereka menjadi terpancang oleh cita-cita yang sebenarnya bukan milik mereka tetapi telah dipengaruhi keluarga dan lingkungan.

“Tidak harus sesuai dengan jurusan, terserah dia sukanya apa,” lanjut Budhy. Ia mengatakan, orang-orang saat ini terlalu banyak menurut pada stigma yang ada di masyarakat. “Misalnya, kuliah kedokteran harus jadi dokter. Tidak juga. Jadi peneliti di bidang kesehatan, mendirikan LSM yang meneliti penyakit daerah tropis, malah lebih bermanfaat kan?” paparnya. Masyarakat Indonesia sendiri dalam pandangan Budhy, tidak terbiasa berpikir dengan bebas. “Terlalu banyak diatur dan diarahkan, sebenarnya itu tidak manusiawi,” imbuhnya.

Apakah ilmunya sia-sia?

Galuh menegaskan, kendati mengambil karir yang berbeda dengan bidangnya saat kuliah bukan sesuatu yang ideal, ilmunya tetap tidak akan sia-sia. “Bisa jadi, secara keilmuan bisa sia-sia tetapi tetap bisa memanfaatkan hal yang lainnya,” ujar Galuh. “Misalnya untuk lulusan S1, karena sudah dididik menjadi analis, jadi kemampuan analisisnya dapat dimanfaatkan untuk problem solving,” lanjutnya.

Sama halnya dengan Ari, menurutnya tidak ada ilmu yang sia-sia. Apalagi bagi mereka yang pernah mengenyam bangku kuliah, dalam keseharian pun mereka akan berbeda dengan yang tidak kuliah. “Misalnya dalam mendidik anak, mereka yang kuliah punya pola pikir yang lebih tinggi,” jelasnya.

Selain itu, dalam karir nanti, ilmu yang ditekuni semasa kuliah pasti masih bisa dimanfaatkan. Ia mencontohkan dirinya yang melupakan alumni jurusan teknik informatika, dan kini ia berkarir di bidang administrasi akademik universitas. “Ilmu saya tetap bisa digunakan, untuk input data dan mengolah data jadi lebih mudah dan cepat karena saya pernah mempelajari sebelumnya,” papar Ari.

Sedangkan menurut Annisa Ayuningtyas, Project Management Executive PT Kadence International mengatakan, bahwa mengambil pekerjaan yang berbeda dengan jurusan saat kuliah bukan menjadi suatu masalah. Saat masuk ke dunia kerja, banyak ilmu saat kuliah yang seolah tidak terpakai sekalipun seseorang memilih karir yang sesuai dengan jurusannya. “Benar-benar semua harus belajar lagi,” tukasnya. Ia menambahkan, bahwa pada dasarnya tidak ada yang sia-sia, “Namanya ilmu, enggak ada yang mubazir,” jelasnya.

Ilmu atau minat?

Terkadang, jurusan yang diambil ternyata tidak sejalan dengan apa yang menjadi minat seseorang. Saat berkarir nanti, mereka pun akan kesulitan memilih, apakah harus mengikuti minat ataukah menyesuaikan karir dengan bidang ilmu yang ditekuni.

Bagi Ari, dalam menghadapi pilihan tersebut, seseorang sebaiknya mengambil jalan tengah. Ia memberi contoh, apabila misalnya seorang sarjana komunikasi menyukai bidang olahraga, ia bisa mendaftar di instansi pemerintah seperti Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI). “Di dalamnya pasti dibutuhkan orang komunikasi. Nah, dia bisa tetap mengamalkan ilmu tetapi juga mengikuti minatnya,” ujar Ari.

Galuh juga mengungkapkan hal yang serupa. Ia menceritakan sebuah kasus yang pernah terjadi, di mana seorang mahasiswa kedokteran mengaku takut pada darah. Hal ini tentu fatal jika ia menjadi seorang dokter nantinya. Beruntungnya, mahasiswa ini memiliki hobi menulis. “Lalu dia memutuskan untuk menjadi jurnalis di buletin kesehatan dan mampu menuai kesuksesan di sana, tanpa harus menjadi seorang dokter,” kisah Galuh.

Berkarir memang suatu aktivitas yang didambakan pasca menempuh pendidikan di perguruan tinggi. “Perlu diingat, ukurannya bukan hanya sekadar materi,” pesan Budhy. Menurutnya, jika ukuran dalam berkarir adalah materi, justru akan mendatangkan kesulitan. “Ibaratnya seperti pernikahan, kalau ukurannya materi, materinya habis, habis pula pernikahannya,” tukas Budhy.

Ia melanjutkan, demi menghindari kebingungan dalam berkarir nanti, idealnya memang seseorang memilih jurusan sesuai dengan minat. “Tapi jangan lupa, ukur juga kemampuannya,” pungkas Budhy.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

seventeen + 6 =

TETAP WASPADA:Perusahaan tidak pernah memungut biaya apapun dan Tidak Bekerjasama Dengan Agen Travel selama proses pendaftaran dan seleksi

X